Minggu, 12 Agustus 2012

Pengalaman ruang masjid Al-akbar Surabaya


Assalamualaikum.
Hari ini, saya dan ayah menyempatkan sholat subuh di masjid al-akbar surabaya. Masjid al-akbar ini merupakan salah satu landmark kota surabaya. Masjid ini mempunyai luas lahan sekitar 11, 2 hektar   dan mampu menampung jamaah sebanyak 59.000 orang.

Memori saya kembali sekitar 10 tahun yang lalu, ketika ada keluarga yang melaksanakan akad nikah disana. Masjid al-akbar mempunyai ukuran yang megah yang membuat saya waktu itu merasa kecil. Berjalan didalam masjid yang pada waktu itu kosong karena sedang bukan jam sholat membuat saya gemetar berjalan didalamnya.

Pengalaman ruang itu kemudian saya rasakan lagi setelah 10 tahun lamanya. Mungkin karena sekarang saya sedang mendalami ilmu tentang arsitektur dan interior , sehingga saya menjadi lebih peka terhadap pengalaman ke-ruang-an. Suasana masjid sangat berbeda pada pagi ini dan pagi 10 tahun yang lalu. Pagi ini, di jam sholat subuh masjid hampir penuh. Di parkiran dan di luar pagar masjid, bis- bis berderet serta mobil-mobil pribadi para jamaah. Sepertinya sedang ada acara sebelumnya. Mungkin acara seperti i’tikaf , mengingat sekarang memasuki sepuluh hari terakhir ramadhan.

Masjid penuh dengan orang-orang dari berbagai daerah. Beberapa tampak tidur di selasar dan serambi masjid. Tempat wudhu dan toilet pun penuh dengan antrian. Saya pun mencari pintu masuk ke dalam dan segera mengisi shaf yang masih kosong. Setelah menunaikan sholat tahiyatul masjid saya duduk menunggu adzan subuh. Saat itulah kebiasaan saya menelusuri elemen2 arsitektur kembali muncul. Saya mencoba berdiam diri dan menangkap pengalaman ruang. Saya mengamati atap kubah yang tamapak megah dan tiang-tiang masjid dengan skala yang gigantic.

Dalam arsitektur dikenala adanya metafora sebagai salah satu pendekatan dalam merancang. Saya mencoba menangkapa metafora yang ada di masjid itu. Adanya skala gigantic membuat manusia di dalamnya merasa kecil. Tinggi ruangan utama dan luasnya area sholat mempunya proporsi yang baik. Adanya perasaan menjadi kecil dan rendah mengingatkan saya akan keberadaan manusia di dunia ini terhadap Allah SWT. Betapa kecilnya kita dibanding denganNya. Bila berada di masjid ini saja bisa membuat kita merendah maka seharusnya kita harus merendah dihadapan Allah SWT.

Pernahkah anda merasa tenang dan sejuk saat berada di masjid? Begitu pula yang saya rasakan di masjid ini. Tingginya atap ruang utama membuat lancarnya sirkulasi udara walaupun masjid dipenuhi jamaah. Mungki perasaan sejuk, tenang dan damai sering diidentikkan dengan kegiatan ibadah di dalamnya, namun sebagai  perancang tentuny hal itu sudah dipikirkan sejak awal. Perancang bertanggung jawab atas pennglaman ruang pengguna suatu bangunan. Tentunya ketika merancang masjid sebagai tempat ibadah perancang ingin masjid ini bisa berfungsi maksimal serta menambah keimanan dengan cara membuat kegiatan di dalamnya nyaman.

Masjid al-akbar ini sebenarnya masih mengikuti bentuk-bentuk masjid klasik dengan kubah dan ornamen-ornamen. Warna-warnanya pun masih bernuansa putih dan hijau. Tidak terlihat adanya metafora lain atau pendekatan lain seperti di masjid salman atau masjid Al-irsyad di bandung.

Mengenai detail lanjutan dan pendekatan arsitektur islam di masjid ini akan dilanjutkan di postingan selanjutnya.

Wassalamualaikum ...

Sumber : masjidalakbar.com




Tidak ada komentar:

Posting Komentar